Stories, Poems, Quotes

    The Blind Dragon (#4 dari 4)

    Epilogue
    Aku tersentak bangun. Awalnya aku bingung dimana aku berada, namun dapat kulihat aku berada di dalam sebuah hutan. Melihat? Kukedip-kedipkan mataku dan kupandang sekitar. Benar, aku dapat melihat! Rasanya seperti mimpi! Bukan, rasanya berpuluh-puluh tahun kehidupanku tanpa penglihatan hanyalah mimpi. Jadi, manakah yang benar? Bagaimana dengan Rani? Atau kota itu?

    The Blind Dragon (#3 dari 4)

    Chapter 3: Freedom

    Beberapa hari kemudian tubuhku pulih. Rani mendekatiku dan mengusap surai di kepalaku sementara tangannya melepaskan jaring-jaring yang ada. Ia pikir ia dapat membuatku merasa tenang dengan mengusap kepalaku dan kami sudah menjadi teman, namun aku menyembunyikan niat untuk bangkit dan menerkamnya.

    The Blind Dragon (#2 dari 4)

    Chapter 2: Irwald

    Rasanya paru-paruku diperas ketika aku mulai tersadar. Usahaku untuk mengangkat bagian-bagian tubuhku terasa begitu sulit hingga aku gemetaran. Akhirnya aku berhenti berusaha dan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku walau perasaanku terasa tidak nyaman. Hutan ini berbeda dengan hutan-hutan biasa. Entah apa bedanya itu aku tidak yakin, aku tidak dapat melihatnya, aku hanya merasa ada yang aneh.

    The Blind Dragon (#1 dari 4)

    Chapter 1: Storm

    Namaku Zen. Walaupun namaku terdengar bagus, aku ini jelek. Aku seekor naga putih dewasa, namun tinggiku hanya tiga meter sementara saudara-saudara seklanku memiliki tinggi berkisar delapan hingga enam belas meter. Tubuhku juga kurus, sangat kontras dengan cakar-cakarku yang setebal batang pohon. Sisikku berwarna putih, tapi aku yakin warnanya pasti telah menjadi kusam. Suraiku juga kumal dan pastinya acak-acakan, dan sayapku rompal-rompal.

    ©Amethyst Orchard 2004 - 2008.