Sebuah penelitian oleh universitas Michigan menemukan lebih dari 75% atau 214 situs Online Banking tidak aman. Kelemahan-kelemahan utama adalah tidak adanya SSL login, halaman contact us yang tidak aman, dan redireksi ke situs lain tanpa peringatan bahwa pengguna akan meninggalkan situs online banking tersebut.
----------------------
The Blind Dragon (#2 dari 4)
Fri, 07/18/2008 - 09:33 — rosedragon
Chapter 2: Irwald
Rasanya paru-paruku diperas ketika aku mulai tersadar. Usahaku untuk mengangkat bagian-bagian tubuhku terasa begitu sulit hingga aku gemetaran. Akhirnya aku berhenti berusaha dan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku walau perasaanku terasa tidak nyaman. Hutan ini berbeda dengan hutan-hutan biasa. Entah apa bedanya itu aku tidak yakin, aku tidak dapat melihatnya, aku hanya merasa ada yang aneh.
Ada suara kicauan burung di sekitarku, namun suara mereka tidak umum. Siulan mereka bergema dan dalam, seakan mereka bersiul dari dalam gua. Bukan, sepertinya itu bukan siulan melainkan ketukan pada benda logam di dalam suatu gua. Ahh, aku tidak tahu bagaimana menjabarkannya. Suara-suara di kejauhan juga aneh, aku mendengar suara musik yang tidak pernah kudengar dan tidak dapat kutiru, maksudku aku tidak dapat bersiul mengikutinya. Kubiarkan telingaku mendengar lebih lanjut, musik itu terdengar syahdu, khusyuk, misterius, namun juga indah.
Aku juga mendengar suara aliran air dari arah yang sama dan aku menjadi sadar diriku kehausan dan kelaparan. Kufokuskan indera-inderaku lalu mulai merangkak ke arah air, walau aku tahu aku tidak akan dapat menghindari serangan apapun. Jari-jariku menapak di tanahnya yang padat dan empuk serta rumput-rumput yang lembut, aneh.. aku tidak pernah menjumpai tanah seempuk ini dan rumput selembut bulu seperti yang kini kusentuh. Semakin jelas apa yang dapat kurasakan di sekitarku, semakin ngeri diriku jadinya. Rasanya tidak ada yang normal disini dan udaranya berusaha mengaburkan pikiranku.
Lalu aku mencium bau musuhku, manusia, namun kali ini jumlahnya hanya satu orang. Dari suara yang terdengar, kutahu manusia itu berada di dekat aliran air. Aku tidak bisa mencapai air tanpa melewatinya sementara diriku begitu kelaparan dan kehausan. Kuputuskan untuk mengumpulkan seluruh tenagaku dan berdiri, lalu berlari ke arah manusia itu. Akan kucabik-cabik dia, akan kubalas perlakuan memalukan yang diperbuat rasnya, dan akan kupuaskan rasa laparku dengan dagingnya.
Manusia itu tidak lari. Mungkin ia percaya diri dengan pedang di tangan namun ia tidak tahu bahwa sisik naga tidak semudah itu dapat diterjang pedang. Akupun bisa merasakan gerakannya dan yakin bisa menghindari serangannya walau aku buta. Aku baru hendak menerkamnya ketika suara puluhan kepak sayap tanpa kuduga melesat cepat ke arahku. Aku tidak sempat menghindar ketika puluhan, mungkin ratusan, sesuatu yang bersayap dan licin menabrakku sambil mengeluarkan suara-suara yang berbunyi 'pong'. Mereka membuatku tergelincir dan akupun jatuh ke sumber air, sebuah sungai yang kecil dan dangkal.
Sungai dangkal itu juga mempermainkanku. Rasanya seperti tiba-tiba sungai itu melebar dan menjadi dalam, lalu airnya menyemburku. Dalam beberapa detik aku hanyut terbawa aliran sungai, membentur batu-batuan, dan air yang terasa manis asam memenuhi perutku. Ahh! Alam benar-benar mempermainkanku! Teriakku dalam hati sebelum sekali lagi kehilangan kesadaran.
***
Aku ingin mati saja namun aku kembali terbangun di alam nyata. Aku menggerang perih. Tubuhku terasa dipenuhi benang-benang tipis yang mengingatkanku pada laba-laba raksasa pemangsa naga muda. Perlahan kuangkat tubuhku yang ternyata tidak terhambat benang-benang itu.
“Jangan bergerak dulu!” tegur suara manusia, suaranya berbeda, tidak dalam dan keras seperti suara-suara manusia yang biasanya kudengar. Mungkin jenis lain dari ras mereka.
Namun untukku manusia yah manusia. Segera aku buru-buru berdiri dan hendak menyerangnya. Namun sekumpulan benang yang melingkupi tubuhku tiba-tiba ditarik bersamaan, dan secara mengejutkan benang-benang tipis itu menarikku hingga aku kembali terkulai di atas tanah. Aku meraung-raung, yang kuharap akan mengusir apapun yang mengendalikan benang-benang ini. Segera badanku terasa merinding ketika beberapa ekor laba-laba kecil naik ke tubuhku lalu ke kepalaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menjatuhkan mereka, namun para laba-laba itu tetap berlari di atas kepalaku. Sebelum aku sadar apa yang mereka lakukan, benang-benang tipis telah membalut moncongku dan lalu ditarik hingga moncongku tertutup dan tidak dapat kubuka. Benang-benang itu juga menarik kepalaku hingga rebah ke tanah, aku benar-benar dibuat tidak dapat bergerak.
Aku tidak bisa protes ketika manusia itu menyentuh tubuhku, memindahkan posisi sayapku, dan menaruh dedaunan di luka-lukaku. Setelah ia selesai, aku mendengar suara langkahnya meninggalkanku. Kucoba untuk bergerak, namun aku tidak mampu membebaskan diriku dari jaring yang membelit kuat. Aku terus mencari celah, berusaha menggeliat dan mengubah sudut, namun aku bahkan tidak bisa melepaskan ekorku dari jaring. Pada akhirnya aku kelelahan dan pasrah.
Kembali aku mendengarkan irama hutan yang terdiri dari seribu bunyi ketukan, siulan, dengung, dan dengkuran. Jikalau kupikir-pikir, semuanya hanya suara alamiah yang tidak memiliki nada, namun entah bagaimana mereka dapat membentuk suatu musik. Apakah penghuni hutan ini mengadakan konser? Sepintar itukah mereka?
Lambat laun, hari demi hari berlalu. Manusia itu kerap datang untuk memberiku makan dan minum, yang tidak dapat kutolak karena aku sangat kelaparan. Toh harga diriku sudah hancur, hanya nyawa ini yang tersisa, walau entah untuk apa aku hidup. Ia juga terus menerus mengajakku bicara, walau tidak pernah kugubris. Dalam hati kubertanya, apakah ia tahu bangsa naga memiliki indera keenam yang memungkinkan kami untuk secara abstrak membaca pikiran ras lain dan menyesuaikannya dengan bahasa mereka? Kalau ia tahu, naga mana yang berani-beraninya memberi tahu? Manusia terlalu berbahaya untuk tahu lebih dari kebuasan kami.
Ia menceritakan tentang dirinya. Namanya Rani dan ia kabur dari rumahnya di sebuah kota tidak jauh dari sini. Ia kabur karena keluarga dan orang-orang disekitarnya mengekangnya, seperti boneka katanya. Jadi ia telah tinggal di hutan ini selama beberapa bulan, dan hutan memelihara dirinya.
Ia bilang hutan ini berbeda dari hutan biasa, hutan ini lebih hidup, dan bangsa manusia menyebutnya hutan Irwald atau ilusi. Bagaimanapun juga orang-orang kota berusaha mencari dirinya, hutan ini akan membuat mereka tersesat dan iapun tidak pernah ditemukan. Rani berkata dengan yakin kalau hewan-hewan bahkan tumbuhan di hutan ini mengerti perkataannya, walau mereka tidak bisa berbicara padanya. Ia berharap akupun juga begitu, karena aku telah menjadi bagian dari hutan ini.