The Blind Dragon (#3 dari 4)

    Chapter 3: Freedom

    Beberapa hari kemudian tubuhku pulih. Rani mendekatiku dan mengusap surai di kepalaku sementara tangannya melepaskan jaring-jaring yang ada. Ia pikir ia dapat membuatku merasa tenang dengan mengusap kepalaku dan kami sudah menjadi teman, namun aku menyembunyikan niat untuk bangkit dan menerkamnya.

    Niat itu kabur bersamaan dengan terdengarnya suara-suara langkah mendekat. Aku tahu itu suara langkah sepatu-sepatu yang menembus semak-semak, namun tampaknya Rani hanya mendengar suara gemerisik semak-semak. Ia menjauh dariku dan mendekati arah suara. Suara-suara itu mendekat, diselingi dentingan logam. Dari beratnya suara langkah mereka dan beberapa bisikan pelan, aku mengetahui makhluk-makhluk dengan dua kaki yang mendekat adalah sekelompok manusia dengan baju besi.

    Segera aku berusaha berdiri, yang ternyata dapat kulakukan dengan mudah. Tidak hanya itu, aku mampu menggerakan sayap kananku. Aku segera berbalik dan terbang pergi menembus pepohonan sementara Rani berteriak minta tolong dan berusaha lari setelah ia menyadari siapa yang berada di balik semak-semak. Aku dapat mendengar sebagian manusia itu menangkap Rani sementara salah satu dari mereka memerintahkan sisanya untuk mengejarku. Beberapa tombak dilempar ke arahku, namun jarakku dengan mereka membuat manusia-manusia itu tidak mampu membidik dengan tepat.

    Setelah aku yakin aku sudah cukup jauh, aku mendarat ke pohon pertama yang kusentuh. Namun aku tidak merasa lega karena berhasil meloloskan diri. Rani terbayang-bayang di benakku, walau ia hanyalah seorang manusia. Manusia telah memotong tandukku, dan sekarang manusia menolongku, jadi semestinya ini sudah impas.

    Tapi aku tetap mengkhawatirkan Rani.

    Jadi, pada akhirnya aku mengikuti kemauan pikiranku dan terbang kembali ke tempat itu. Mereka sudah pergi dari sana namun samar-samar aku dapat mencium bau mereka. Aku mendarat turun lalu berlari mengikuti bau tersebut hingga akhirnya bau itu membawaku ke luar hutan. Rasanya beda setelah berada di luar hutan, pikiranku seperti merapat, kembali waspada, dan berat. Rasanya seakan baru saja meninggalkan dunia mimpi yang tenang.

    Aku kembali mengikuti bau pada jejak para manusia itu, yang kini bercampur dengan bau pekat kuda-kuda. Karena aku berada di tanah lapang, aku kembali terbang walau serendah mungkin dan sesekali menukik turun untuk memastikan aku mengikuti jalan yang benar.

    Pada satu titik bau-bau itu bercampur dengan bau-bau lainnya, baik bau manusia yang berbeda, kuda, kereta, ternak, hingga tetumbuhan. Mendengar hiruk-pikuk di depan, kurasa aku telah sampai di dekat sebuah kota. Tidak lama kemudian orang-orang mulai berteriak dan meninggalkan bawaan mereka, sementara aku memikirkan bagaimana caranya mencari Rani di dalam sebuah kota dengan ratusan manusia. Aku tergoda untuk mengancam manusia-manusia ini dan bertanya pada mereka, tapi aku tidak boleh sampai melakukan hal itu. Satu kata saja akan membuat seluruh rasku terancam.

    Aku mendarat turun, menghancurkan kereta di bawahku. Lalu aku berlari masuk ke dalam kota sambil meraung-raung sekeras mungkin. Kuterjang apapun yang berada di depanku, melempar sejumlah manusia, dan menghancurkan banyak benda yang ada. Derap langkah dan teriakan-teriakan manusia memenuhi sekitarku hingga aku tidak sadar para pemanah mulai mengambil posisi di atas atap hingga suara desiran panah terdengar melesat ke arahku. Aku segera melempar diriku ke satu arah namun beberapa panah tetap menghujam ke tubuhku. Untunglah sisik-sisikku meredam panah-panah itu sehingga aku hanya mendapat luka ringan.

    Kuperkirakan para pemanah itu berasal dari dua arah, terbang ke arah salah satu arah sama saja membuat diriku menjadi sasaran empuk. Mereka juga pasti telah memprediksi hal itu. Namun prediksi manusia terbatas selayaknya kemampuan pikir mereka dibatasi ketamakan dan keegoisan. Aku berlari seakan hendak meloncat terbang, namun bukannya membuka sayap, aku menubruk bangunan sekencang-kencangnya dimana kuyakin para pemanah berada. Tubuh tiga meterku ternyata masih cukup kuat untuk menghancurkan pondasinya, dan bangunan itupun mulai rubuh. Para pemanah jatuh tidak berdaya dan ketika sebagian dari mereka berusaha kembali bergerak, segera kuterkam dan kugigit mereka.

    Mengetahui teman-temannya tidak ada harapan lagi, barulah para pemanah dari atas gedung yang lain menembakkan anak-anak panah mereka. Lokasinya terlalu jauh sehingga aku memilih untuk menghindar, kembali ke tempatku berlindung sebelumnya. Satu anak panah menghujam leherku. Anak panah itu patah ketika aku berusaha melengkungkan leherku, namun meninggalkan mata panahnya di dalam daging.

    Baru saja aku hendak terbang ke kawanan pemanah yang tersisa, kudengar suara derap kuda dan dentingan logam. Tampaknya pasukan berkuda mereka telah datang, dan sialnya mereka akan menghalangi lapangan yang kubutuhkan untuk membumbung secepatnya. Para pemanahpun sepertinya mulai berpencar. Pertarungan ini mulai tidak imbang.

    Aku berbalik dan berlari, membentur dan meraba-raba dinding hingga akhirnya menemukan jalan, walau jalan itu begitu sempit. Para pasukan berkuda mengikuti tepat di belakangku lalu satu lagi menghadang di depanku. Kurasa ia nekad dan akupun maju menerjangnya. Namun tidak kusangka, manusia itu membawa senjata tajam yang begitu panjang dan senjata itu menusuk dalam ke bahu kaki depan kiriku. Sang manusia sendiri terpelanting jatuh. Raungan kesakitanku menghabiskan beberapa detik yang berharga. Setelah aku tersadar, aku langsung kembali berlari, tidak peduli dengan senjata yang masih menancap.

    Aku sampai di tempat yang lebih luas. Segera kudengar suara teriakan memanggilku, tidak terlalu jauh. Rani! Para manusia berkuda telah begitu dekat denganku, aku berhadapan dengan mereka, mengangkat kepalaku. Lalu api kemarahan tersembur dari moncongku dan membakar mereka. Anak panah yang tertancap mengoyak leherku. Tanpa menunggu waktu, aku berbalik ke arah suara Rani, berderap dan meraung ke arah dentingan-dentingan logam di sekitarnya. Kuharap manusia-manusia itu menjauh dari Rani sehingga aku dapat mencabik-cabik mereka dengan suka hati.

    Namun keinginanku tidak terwujud, mereka tetap bertahan disana sementara pedang-pedang mereka diayunkan ke arahku. Menambah permasalahan, anak-anak panah berdesing dan aku tidak mampu menghindari mereka. Segera setelah rasa sakit dari anak-anak panah menyita perhatianku, para manusia itu mengambil kesempatan untuk menebasku. Aku berusaha mencakar mereka, namun baju besi mereka melindungi mereka dari luka fatal.

    Semestinya aku kabur saja dan lupakan Rani. Namun aku tidak bisa walau diriku bermandikan darah. Sebisa mungkin aku mengecoh manusia-manusia ini, seakan tujuanku hanya untuk membunuh mereka semua. Yah, mereka tidak sadar kalau aku memisah-misah mereka dan membuka jalan ke arah Rani. Perlahan, maju, memutar, dan mundur aku mendekat padanya. Rani sendiri dipaksa mundur oleh beberapa manusia yang masih menahannya, lalu beberapa saat kemudian mereka tidak berpindah lagi. Mungkin mereka terpojok.

    Pendengaranku telah menangkap posisi mereka, Rani dan manusia-manusia yang menahannya. Jadi aku segera berbalik, mengabaikan penyerang-penyerangku, dan melesat ke arah Rani. Para manusia itu terkejut ketika kutampar mereka hingga terlontar agak jauh. Kulindungi Rani dengan kedua sayapku lalu dengan cepat kurapal sebuah mantera. Kabut sihir naik dari permukaan tanah dan menutupi seluruh kota itu. Satu-persatu manusia itu lunglai dan jatuh ke tanah. Rani memeluk kepalaku dan berbisik.

    “Terima kasih..”

    Tenagaku habis namun semua manusia di kota ini akan tertidur selama beberapa hari, kuharap cukup untuk membantu Rani pergi jauh. Aku kembali ambruk dan kehilangan kesadaran, mungkin kali ini ajalku menjemput.

    Bersambung...
    Sebelumnya...

    Comments

    Post new comment

    • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
    • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <i>
    • Lines and paragraphs break automatically.

    More information about formatting options

    CAPTCHA
    Pertanyaan ini ditujukan untuk menghindari spam otomatis.

    ©Amethyst Orchard 2004 - 2008.